Selasa, 12 April 2011

Penanggalan Masehi


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Setiap tanggal 1 Januari orang-orang di berbagai belahan dunia akan bersorak sorai merayakan pergantian tahun. Setelah 365 hari yang telah kita lalui, kita akan menyambut 365 hari yang baru. Harapan-harapan dilambungkan untuk menyongsong hari yang baru. Doa-doa diucapkan. Tahun baru telah tiba! Namun, di balik kegembiraan tahun baru, pernahkah terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan seputar kalender?  Misalnya, tahukah anda mengapa satu tahun lamanya 365 hari dan setelah itu datang tahun baru membawa 365 hari yang baru, atau tahukah anda sejak kapan kalender yang kita gunakan sekarang ini mulai digunakan pertama kalinya dan siapa yang menciptakannya?
Terkait dengan hari – hari besar seperti lebaran, hari kemerdekaan, natal, atau tanggal lahir dan lain sebagainya merupakan rutinitas tahunan yang memiliki tanggal dan bulan yang sama, akan tetapi kemungkinan besar berbeda dengan harinya. Kalenderlah yang menjadi acuan dalam penetapan hari – hari tersebut. Dan tidak sampai disitu, banyak sekali fungsi kalender sebagai acuan penanggalan khususnya kalender syamsyiah atau yang kita kenal dengan kalender masehi.
  1. Rumusan Masalah
Terkadang orang hanya mengerti sebatas hitungan tanggal, tapi raib dalam masalah sejarah, system penanggalan itu dibuat. Rumusan masalah yang dipaparkan diantaranya :
1.      Apa pengertian dan fungsi  kalender
2.      Bagaiamana sejarah terbentuknya kalender masehi
3.      Bagaimana system perhitungan dalam kalender masehi.
  1. Tujuan
Dalam sistem Penanggalan masehi penulis mencoba untuk mengenalkan dan meneliti lebih lanjut dengan sistem penanggalan yang ada khususnya Kalender masehi baik dari aspek historis ataupun metode perhitungan yang digunakan dalam kalender masehi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kalender
Kedudukan matahari dan bulan dapat ditentukan menurut suatu perhitungan, ada hokum alam yang mengatur pergerakannya dilangit. Manusia diberi kemampuan untuk melihat keteraturan atau regularitas (periodisitas) berulangnya fenomena alam. Keteraturan itu menimbulkan inspirasi intelektualitas manusia untuk membangun sebuah sistem pencatat waktu yang bertujuan untuk mengatasi bencana regular, misalnya banjir akibat datangnya musim hujan.
Dua benda langit yang terang, matahari dan bulan saat purnama, tal pelak lagi menjadi sasaran penglihatan dan pengamatan (observasi) bagi manusia dibumi. Fenomena yang berulang secara teratur (regularitas), yang berasal dari kedua benda langit tersebut mudah dikenali manusia. Keadaan kedua benda langit itu dapat dirasakan dampaknya langsung terhadap kehidupan manusia dibumi. Misalnya matahari berdampak pada perubahan musim, fasa bulan bertaut dengan pasang surut air laut. Oleh karena itu, regularitas yang berasal dari matahari dan bulan menjadi bagian prioritas perhatian dan telaah manusia sepanjang zaman. Kemudian terjadi pemanfaatan proses regularitas fenomena alam dari pennggunaan praktis menjadi sebuah sistem pencatat waktu dalam skala panjang atau yang dikenal dengan sebuatan kalender. Kalender berguna untuk menimbulkan sentuhan nostalgia berkaitan dengan perekam peristiwa perjalanan cultural dan sejarah manusia.[1]

B.     Sejarah Kalender Masehi
Kalender masehi dikelompokkan kedalam kalender matahari (syamsyiah) atau kalender surya. Kalender masehi ini merupakan sosok sebuah kalender surya karya manusia setelah melalui perjalanan yang amat panjang melalui pengamatan terhadap matahari.
Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tahun dan bulan mereka mengambil kalender orang Romawi yang disebut kalender Julian. Kalender Julian lalu disempurnakan menjadi kalender Gregorian.[2]
Penanggalan masehi atau milady diciptakan dan duproklamirkan penggunannya oleh Numa Pompilus pada tahun berdirinya kerajaan Roma 753 SM. Penanggalan ini berdasarkan perubahan musim sebagai akibat peredaran semu matahari, dengan menetapkan panjang satu tahun berumur 366 hari. Bulan pertamanya adalah Maret, karena posisi matahar berada pada titik aries itu terjadi pada bulan Maret.
Kemudian pada tahun 46 SM, menurut penanggalan Numa sudah bulan Juni, tetapi posisi matahari sebenarnya baru pada bulan Maret, sehingga oleh Julius Caesar, penguasa kerajaan Romawi, atas saran dari ahli astronomi Iskandaria yang bernama Sosigenes diperintahkan agar penanggalan Numa tersebut diubah dan disesuaikan dengan posisi matahari yang sebenarnya, yaitu dengan memotong penaggalan yang berjalan sebanyak 90 hari danmenetapkan pedoman baru bahwa saatu tahun itu ada 365,25 hari. Bilangan tahun yang tidak habis dibagi empat sebagai tahun pendek (Basithah) berumur 365 hari, sedangkan bilangan tahun yang habis dibagi empat adalah tahun panjang (Kabisat) berumur 366 hari. Selisih satu hari diberikan kepada pada urutan bulan yang terakhir (waktu itu) yakni bulan februari. Penanggalan hasil koreksian ini kemudian dikenal dengan Kalender Julius atau Kalender Julian.[3]
1.      Kalender Julian
Kalender Julian di perkenalkan oleh Julius Caesar 45 tahun sebelum Masehi. Merupakan tahun surya dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan Kalender Gregorian pada tahun 1582.
Era sebelum 45 SM, dinamakan era bingung, karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penyisipan ini sedemikian cerobohnya sehingga bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat dengan perhitungan candra (purnama tilem), walaupun sebenarnya dasar dari kalender Romawi adalah luni-solar. Akhirnya dengan nasehat Sosigenes, seorang astronom dari Alexandria, Caesar menetapkan kalendernya menjadi 12 bulan, masing-masing dengan jumlah hari tertentu seperti sekarang, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun, dengan keyakinan bahwa panjang 1 tahun surya adalah 365.25 hari saat itu.
Sejak meninggalnya Caesar, penerapan tahun kabisat salah terap. Kabisat diberlakukan tiap menginjak tahun ke 4, jadi 3 tahun sekali. Keadaan ini konon dibetulkan kemudian oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi. Setelah itu kalender Julian berfungsi dengan jauh lebih baik.
Caesar mendefinisikan 1 Januari sebagai awal tahun baru, meskipun demikian banyak yang menetapkan selain itu. Yang paling populer di antaranya adalah 1 Maret, 25 Maret dan 25 Desember.
Penetapan hari pertama tiap bulan juga berkembang. Secara Kalends, yaitu mulai hari pertama bulan baru (di Bali penanggal), Nones yaitu mulai pada pertengahan bulan (Purnama), atau Ides yaitu 8 hari setelah purnama (panglong 8). Sejalan perkembangan waktu, Kalends lebih banyak diikuti, dari sinilah mungkin istilah kalender berasal. Demikian menurut Cappelli (1930), Grotefend & Grotefend (1941), dan Cheney (1945).[4]
Pada waktu dewan gereja bersidang yang pertama kalinya pada bulan Januari maka mulai saat itu bulan Januari ditetapkan sebagai bulan yang pertama dan bulan yang terakhir adalah Desember. Sistem ini dikenal dengan nama Sistem Justinian.
Meskipun sudah diadakan koreksi dan perubahan, namun ternyata kalender Julian masih lebih panjang 11 menit 14 detik dari titik musim yang sebenarnya, sehingga sebagai akibatnya kalender itu harus munsur 3 hari setiap 400 tahun.[5]

2.       Kalender Georgian
Kalender Gregorian adalah kalender yang sekarang paling banyak dipakai di Dunia Barat. Ini merupakan modifikasi Kalender Julian. Yang pertama kali mengusulkannya ialah doktor Aloysius Lilius, dari Napoli, Italia dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII pada tanggal 24 Februari 1582. Penanggalan tahun kalender ini, berdasarkan tahun Masehi.
Kalender ini diciptakan karena Kalender Julian dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju sehingga, perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi. Lalu pada tahun 1582, hari Kamis 4 Oktober diikuti dengan hari Jumat 15 Oktober.
Selain resmi digunakan sehari-hari di negara kita, sistem penanggalan Gregorian ini merupakan sistem penanggalan internasional. Sistem penanggalan Gregorian adalah sistem penanggalan yang berdasarkan pada siklus pergerakan semu Matahari melewati titik vernal equinok dua kali berturut-turut, yang lamanya rata-rata adalah 365, 242199 hari. Revolusi Bumi mengelilingi Matahari tiap tahunnya mengakibatkan Matahari terlihat dari Bumi bergerak melintasi bola langit. Padahal, sebenarnya Bumi bergerak mengitari Matahari maka kita melihat Matahari diproyeksikan pada medan bintang yang berbeda-beda. Lintasan Matahari semu selama setahun ini kemudian disebut ekliptika. Mudahnya, bayangkan saja bintang-bintang di langit. Bintang-bintang tampak terbit dan tenggelam setiap harinya.
Hal ini tidak lain diakibatkan oleh rotasi Bumi terhadap sumbunya, bukan karena Bumi yang diam dan dikelilingi oleh bintang-bintang, seperti yang dikira orang-orang zaman dahulu selama berabad abad.
Titik vernal equinok adalah titik semu pada lintasan ekliptika tempat Matahari melewati atau tepat berada pada garis ekuator langit (perpanjangan garis ekuator Bumi), yang terjadi sekitar tanggal 21 Maret.
Oleh karena penyesuaian dengan pergerakan semu Matahari inilah, satu tahun dalam kalender Gregorian lamanya 365 hari. Tetapi, sistem penanggalan Gregorian dengan 365 hari seperti sekarang ini sebetulnya merupakan reformasi dari sistem penanggalan yang digunakan sebelumnya. Kalender Gregorian pada mulanya adalah kalender yang digunakan oleh bangsa Romawi kuno dan bukan berdasarkan pada siklus Matahari (solar calendar) seperti sekarang ini. Kalender aslinya dulu tidak terdiri dari duabelas bulan seperti sekarang, tetapi terdiri dari sepuluh bulan (Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, October, November, December) dengan jumlah hari sepanjang tahun adalah 304 hari.

3.       Perbedaan kalender Julian dengan Georgian
Satu tahun dalam Kalender Julian berlangsung selama 365,25 hari. Tetapi karena putaran bumi mengelilingi matahari hanya berlangsung selama 365,2422. hari, maka setiap satu milenium, Kalender Julian kelebihan 7 - 8 hari. Masalah ini dipecahkan dengan hari-hari kabisat yang agak berbeda pada kalender baru ini. Pada kalender Julian, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 merupakan tahun kabisat. Tetapi pada kalender baru ini, tahun yang bisa dibagi dengan 100 hanya dianggap sebagai tahun kabisat jika tahun ini juga bisa dibagi dengan 400. Misalkan tahun 1700, 1800 dan 1900 bukan tahun-tahun kabisat. Tetapi tahun 1600 dan 2000 merupakan tahun kabisat.[6]

4.       Nama bulan dalam kalender masehi
Dalam sistem penanggalan kalender Masehi atau Gregorian, satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Kentalnya hubungan antara kalender Masehi dengan kepercayaan paganisme bangsa Romawi bisa dilihat dari nama-nama yang dipergunakan. Berikut ini kedua belas nama bulan tersebut:
·        JANUARI.  Merupakan bulan pertama dalam tahun Masehi. Berasal dari nama  Dewa Janus, Dewa bermuka dua, yang satu mengahadap ke depan dan yang satunya menghadap ke belakang. Dewa Janus disebut juga sebagai Dewa Pintu.
·        FEBRUARI. Merupakan bulan kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februs, Dewa Penyucian.
·        MARET.  Merupakan bulan ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang. Pada mulanya, Maret merupakan bulan pertama dalam  kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga.
·        APRIL. Merupakan bulan keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang bereti ”membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
·        MEI. Merupakan bulan kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.
·        JUNI. Merupakan bulan keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.
·        JULI. Merupakan bulan ketujuh dari tahun Masehi. Di bulan  ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan sebagai bulan Juli. Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin. Hal ini dikarenakan kalender Romawi  pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama.
·        AGUSTUS. Merupakan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama bulan Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka bulan Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus. Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi bulan pertama, Maret menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis.
·        SEPTEMBER. Merupakan bulan kesembilan dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
·        OKTOBER. Merupakan bulan kesepuluh dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
·        NOVEMBER. Merupakan bulan kesebelas dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
·        DESEMBER. Merupakan bulan keduabelas atau bualn terakhir dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh  dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.[7]


C.    Sistem Perhitungan Kalender Masehi
1.      Menghitung Hari
Dalam menghitung hari, penulis memberi metode yang dipakai dalam menghitung penanggalan, contoh menghitung hari pada tanggal 1 Januari suatu tahun dengan langkah – langkah yang perlu diperhatikan yaitu :
a.       Tentukan tahun yang akan dihitung
b.      Hitung tahun tam, yakni tahun yang bersangkutan dikurangi satu.
c.       Hitung siklus selama tahun tam tersebut, yakni int (tahun tam : 4)
d.      Hitung berapa tahun kelebihan dari sejumlah siklus tersebut.
e.       Hitung berapa hari selama siklus yang ada, yakni siklus x 1461 hari
f.       Hitung berapa hari selama satu tahun kelebihan tersebut, yakni kelebihan tahunx 365 hari atau :
1 tahun = 365 hari                   3 tahun = 1095 hari
2 tahun = 730 hari                   4 tahun = 1461 hari
g.      Jumlahkan hari – hari tersebut dan tambahkan satu (tanggal 1 januari)
h.      Kurangi dengan koreksi greogian, yakni 10 + ........hari
i.        Jumlah hari kemudian dibagi 7 (tujuh), selebihnya dihitung mulai hari sabtu atau :

1 = sabtu         3 = Senin         5 = Rabu         7 = Jum’at
2 = Ahad         4 = Selasa        6 = Kamis        0 = Jum’at

Contoh :
                        Tanggal 1 Januari 2004 M
            Waktu yang dilalui = 2003 tahun, lebih satu hari atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih satu hari
500 siklus = 500 x 1461 hari = 730.500 hari
3 tahun     =     3 x 365 hari   =     1.095 hari
                                               =            1 hari +
Jumlah                                   = 731.596 hari              

              Koreksi Gregorius           = 10 + 3 =            13 hari -                
                                                                         731. 583 hari

731.583 : 7 = 104.511, lebih 6 = Kamis, (dihitung mulai sabtu).
Jadi tanggal 1 Januari 2004 jatuh pada Kamis.

2.      Pembuatan Kalender dan Menghitung Tanggal
Setelah hari pada tanggal satu januari diketahui, maka untuk menentukan hari pada tanggal satu bulan – bulan berikutnya, dapat digunakan jadwal berikut ini, tetapi harus diketahui tahun yang dikendaki itu kabisat (panjang) ataukah basithah (pendek).
Bulan
Basithah
Kabisat
Hari
Hari
Januari
1
1
Februari
4
4
Maret
4
5
April
7
1
Mei
2
3
Juni
5
6
Juli
7
1
Agustus
3
4
September
6
7
Oktober
1
2
November
4
5
Desember
6
7
Tabel 01

Catatan : hari apa saja pada tanggal 1 Januari tahu berapa saja nilainya adalah 1 (satu), sehingga untuk bulan – bulan berikutnya, hari tinggal mengurutkan hari yang keberapa dari tanggal 1 januari itu sesuai dengan angka yang ada pada jadwal diatas.

Menghitung Tanggal :  
Untuk mengetahui suatu tanggal tertentu maka hari pada tanggal 1 bulan yang bersangkutan bernilai satu, sehingga tinggal menambahkan sampai tanggal yang dikehendaki.
Misalnya 05 Oktober 2004, karena tanggal 01 Oktober 2004 jatuh pada hari jumat, maka tanggal 05 Oktober 2004 jatuh pada hari selasa, yakni lima hari dihitung dari Jumat sehingga jatuh pada hari selasa. Kecuali cara diatas, dapat pula dihitung secara langsung, yakni seperti cara menghitung tanggal 1 Januari diatas, tetapi harus ditambahjumlah hari sejak tanggal 1 januari sampai tanggal yang bersangkutan.

3.      Daftar Umur dan Jumlah Hari Bulan – Bulan Masehi
Bulan
Umur
Jumlah Hari
Basithah
Kabisat
Januari
31
31
31
Februari
28 / 29
59
60
Maret
31
90
91
April
30
120
121
Mei
31
151
152
Juni
30
181
182
Juli
31
212
213
Agustus
31
243
244
September
30
273
274
Oktober
31
304
305
November
30
334
335
Desember
31
365
366
Table 02.




Contoh :
Tanggal 05 Oktober 2004 M ( 5 – 10 – 2004 )
Waktu yang dilalui = 2003 tahun, lebih 9 Bulan, lebih 5 hari atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih 9 bulan, lebih 5 hari.
            500 siklus = 500 x 1461 hari = 730.500 hari
3 tahun     = 3 x 365 hari       =     1.095 hari
                                  9 bulan       =       274 hari
                                  5 hari          =           5 hari +
                                  Jumlah          731.874 hari
Koreksi Gregorius = 10 + 3        =          13 hari -
                                                             731.861 hari

     Jadi tanggal 5 Oktober 2004 jatuh pada hari Selasa.[8]

Daftar ini bisa dibuat dengan dasar perhitungan jumlah hari pada setiap bulan dibagi 7 yaitu jumlah hari dalam satu minggu, kemudian sisanya dijumlah berurutan dari januari ditambah 1 jika perhitungan dimulai tanggal 1. penjumlahan ini akan menentukan hari pada awal bulan februari. Jika februari telah diketahui kemudian jumlahkan dengan sisa hari bulan februari ini akan menentukan awal maret dan begitu seterusnya. Secara lebih jelas bisa dilihat pada tabel dibawah ini.


Bulan
Cara penghitungan
Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember
31 hari:7= 4 sisa 3                                1

28 hari:7= 4 sisa 0                                 4

31 hari:7= 4 sisa 3                                  4

30 hari:7= 4 sisa 2                                   7

31 hari:7= 4 sisa 3                                 2

30 hari:7= 4 sisa 2                                 5

31 hari:7= 4 sisa 3                                  7

31 hari:7= 4 sisa 3                                 3

30 hari:7= 4 sisa 2                                 6

31 hari:7= 4 sisa 3                                 1

30 hari:7= 4 sisa 2                                  4

31 hari:7= 4 sisa 3                                  6
Table 03
Untuk penjumlahan yang hasilnya lebih dari 7 maka untuk menentukan hari pada awal bulannya harus dikurangi 7 karena 7 = 0 atau jumlah hari dalam satu minggu adalah 7 hari. Jika perhitungan dimulai dari tanggal lain bukan tanggal 1 perhitungan tetap sama caranya, awal  bulan setelah bulan pertama hasilnya mengikuti, tergantung pada tanggal perhitungan awal yang digunakan. Perhitungan dengan cara ini berlaku sama untuk menentukan pasaran hanya saja untuk pasaran jumlah hari dalam tiap bulan dibagi 5. Untuk penjumlahan yang lebih dari 5 maka dikurangi 5 juga untuk menentukan pasaran karena pasaran ada 5. Untuk perhitungan tahun kabisat juga sama.
Jumlah hari dalam satu tahun pada penanggalan masehi ini sesuai dengan waktu revolusi bumi (waktu yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari dalam satu kali putaran) yaitu 365,245 hari. Jumlah hari pada bulan-bulan dalam kalender miladiyah berkisar antara 31 atau 30 hari kecuali bulan februari yang hanya memiliki 28 hari pada tahun basithoh dan 29 hari pada tahun kabisat. Penentuan ini didasarkan pada keputusan para astronom yang menjadi founding father kalender ini, yang acuannya disesuaikan dengan waktu revolusi bumi. Oleh karena itu, efek dari penyesuaian tersebut, februari memiliki jumlah hari yang lebih panjang setiap 4 tahun sekali.   


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kalender Masehi yang  sebenarnya merupakan kalender surya (kalender solar) yang memanfaatkan berulangnya pola musim global yang pada hakekatnya adalah siklus tropis matahari sebagai acuan. Kalender ini sudah ada sejak zaman arab sekitar 6000 tahun yang silam dengan bentuk dan tatanan bulan dan tahun yang berbeda sampai pada zaman romawi, perubahan itu tetap ada.
Kalender ini pertama kali dikemukakan oleh Numa Pompilus pada tahun berdirinya kerajaan Roma 753 SM berdasarkan perubahan musim sebagai akibat peredaran semu matahari, dengan menetapkan panjang satu tahun berumur 366 hari.
Kemudian Kalender Julian di perkenalkan oleh Julius Caesar 45 tahun sebelum Masehi. Merupakan tahun surya dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis.
Sistem penanggalan Gregorian adalah sistem penanggalan yang berdasarkan pada siklus pergerakan semu Matahari melewati titik vernal equinok dua kali berturut-turut, yang lamanya rata-rata adalah 365, 242199 hari.
Adanya reformasi kalender Julian dan masih adanya kritik terhadap kalender greogian menunjukkan pemahaman manusia terhadap kosmos, tidak mendadak sempurna bahkan perlu ribuan tahun untuk memahami perubahan kecil yang baru terlihat efek komulatifnya pada beribu tahun kedepan seperti siklus tropis matahari. Dari sejarah diatas ada sesuatu hal yang menarik bahwa manusia dapat “mensiasati waktu".
Perhitungan kalender masehi tidaklah serumit kalender lainnya, dikarenakan penanggalan ini menggunakan system solar (matahari), berbeda dengan perhitungan – perhitungan penanggalan lainnya yang terbilang cukup rumit. Dalam Metode perhitungan yang penulis gunakan adalah metode yang paling sederhana, baik dalam mencari hari, tanggal ataupun tahun. Mungkin sedikit beberapa kesulitan bagi orang yang belum mengerti akan istilah – istilah atau penggunaan bahasa yang digunakanan berikut pula dengan perhitungannya. Jadi perlu pemahaman dan pendalaman materi tersendiri bagi orang yang belum mengenal dasar ilmu falak.
B.     Penutup
Demikianlah karya tulis ini kami buat sebagai bentuk latihan dan pendalaman materi khususnya bagi penulis sendiri. Besar harapan kami apabila dalam penulisan ini terdapat saran dan kritik dari para pembaca ataupun dosen pengampu. Segala kekurangan mohon menjadi maklum adanya.




DAFTAR PUSTAKA
http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/namabulan
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender
http://www.babadbali.com/julian

http://id.wikipedia.org/wiki/kalendermasehi

Khazin, Muhyiddin, 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktis, Buana Pustaka :  
         Yogyakarta.

Raharto, Moedji, 2001, Sistem Penanggalan syamsiah/Masehi. Penerbit ITB :  
          Bandung


[1] Raharto, Moedji, 2001, Sistem Penanggalan syamsiah/Masehi. Penerbit ITB : Bandung. Hlm. 4
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/kalendermasehi
[3] Khazin, Muhyiddin, 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktis, Buana Pustaka : Yogyakarta. Hlm. 105 – 106.
[4] http://www.babadbali.com/julian
[5] Loc. Cit. Hlm. 106
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender
[7] http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/namabulan
[8] Loc.. cit. Hlm. 107 - 111

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar