Selasa, 12 April 2011

Rangkuman Singkat Tentang Rubu Mujayyab


Pendahuluan
Dalam khazanah intelektual Islam klasik, ilmu falak merupakan salah satu ciri kemajuan peradaban Islam. Secara etimologis kata falak berasal dari madar atau orbit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai cakrawala atau lingkaran langit. Sedang arti ilmu falak sendiri adalah ilmu yang membahas tentang lintasan benda-benda langit, matahari, bulan bintang dan planet -planetnya.[1]Mempelajari ilmu falak pada dasarnya mempunyai dua kepentingan yang saling berkaitan. Yang pertama yaitu untuk kepentingan masalah-masalah ibadah. Yang kedua yaitu untuk pengusaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau sains.
Silsilah sains menunjukkan asal-usul yang sangat rumit. pada abad pertengahan kaum muslimin memasukkan astronomi sebagai salah satu dari sains matematika. Sebagian pengetahuan berasal dari India dan Sansani,  yang termasuk kedalam pengetahuan yang diteruskan selama beribu-ribu tahun dari Babilonia dan mesir kuno, dimana observasi terhadap langit dilakukan dengan rinci dan perhitunggan tahun kalender didasarkan pada  apa yang dapat dilihat dilangit. Perhitungan yang tidak jauh berbeda dari zaman modern.
Dalam pengembangan dan peningkatan banyak instrumen astronomi, kaum muslimin banyak membuat kemajuan yang begitu penting, seperti membuat alat-alat seperti, astrolobus, kuadran, bencet, armillry sphere dan lain sebagainya. Namun dalam pembahasan kali ini kami hanya membahas mengenai alat yang bernama rubu’.
Adapun rumusan masalah yang akan kami jelaskan dalam makalah ini antara lain yaitu ;
  • Sejarah  Rubu’ Atau Kuadran
  • Bagian-bagiannya
  • Serta fungsi dan jenis-jenisnya.
Pembahasan
Sejarah rubu’
Kata Rubu’  berarti (seperempat), dalam istilah astronomi disebut dengan kuadran (quadrant). Kuadran ini merupakan Salah satu instrumen awal astronomi, yaitu suatu alat yang digunakan untuk menghitung ketinggian bintang di atas cakrawala atau alat untuk menghitung fungsi giniometris yang sangat berguna untuk memproyeksikan peredaran benda langit pada lingkaran vertical.[2]
Sebelum dikenal daftar logaritma, perhitungan ilmu falak dilakukan dengan rubu’ ini. Sehingga buku-buku ilmu falak yang ditulis pada  tahun 1930-an, seperti  Badi’atul missal, dan Attaqribul Maqshad, system perhitungannya masih menggunakan rubu’[3].
Awal mula munculnya rubu’ ini pada kurun ke-14 M, oleh Ibn Al-syatir, beliau adalah seorang ahli falak Syria, Beliau ini telah menciptakan rubu' mujayyab yang disifatkan sebagai peralatan yang mengandung grid trigonometri sejagat. Dimana Kuadran adalah merupakan salah satu alat  sederhana yang digunakan untuk mengukur astronomi, navigasi, dan survei.[4]
Kuadran mengakui sisi namanya dengan kemampuan untuk mengukur waktu seperempat lingkaran dengan menggunakan trigonometri bulat, yang kemudian rembang jarak dapat digunakan untuk menghitung bintang angkasa bujur dan lintang. [5] Nama kuadran ini bersal dari fourth bagian atau seperempat dari bagian.
Awal astronom digunakan sebagai jenis alat untuk mempelajari langit. Namun pada dasarnya adalah alat untuk mengukur atau menghitung posisi benda di langit. Dengan mereka (astronom) bintang-bintang dipetakan yang dibuat untuk memprediksi masa depan posisi matahari, bulan, dan planet.[6] Pengetahuan ini sangat penting, karena langit menjabat sebagai jam, kalender, dan bantuan navigasi untuk membantu mereka (para pelaut). Alat ini hanya digunakan oleh para imam untuk mengatur waktu untuk agama observances dan ahli untuk melemparkan horoscopes.
 Di sekitar tahun 1650, Peter Ifland mengoleksi rubu’ tersebut yang di tempat yang diberi nama “ The Mariners' Museum “ . Beliau banyak menggunakan alat ini sebelum pergi ke laut yakni untuk membantu navigators. Untuk navigasi laut, contoh-contoh paling awal yang ditemukan di sekitar 1460. Mereka tidak lulus dalam derajat tetapi mempunyai latitudes yang paling umum tujuan langsung scribed pada anggota tubuh. Ketika digunakan, navigator yang akan berlayar utara atau selatan sampai kuadran ditunjukkan dia di lintang dari tujuan, berbelok ke arah tujuan dan berlayar ke tempat tujuan mempertahankan program studi dari lintang konstan. Setelah 1480, lebih dari instrumen dibuat dengan limbah lulus dalam derajat.
Koleksi-koleksi rubu’nya adalah :

Quadrant

The Mariners' Museum (1650)


Diagram kuadran, La Geografia di Clavdio Ptolemeo, 1548, Dari Library di The Mariners' Museum G87.P9.m4.1548
Kuadran, A New Collection of Voyages, Discoveries dan Travels: Berisi Apapun yang diutus Notice di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika, 1767, Dari Library di The Mariners' Museum G160.K75
Para Astrolog  menggunakan kuadran ini untuk membantu menentukan gerhana matahari atau ramalan nasib seseorang dengan bantuan dari bintang-bintang. Alat ini  adalah sebuah perangkat untuk mengukur tajam ketinggian bintang atau matahari. Surveyors dapat menggunakannya untuk mengukur ketinggian sebuah bangunan atau gunung. Ia bahkan digunakan untuk membantu meriam yang bertujuan untuk memukul sebuah benteng musuh. Dan untuk sailor, alat  tersebut pertama kali digunakan untuk mengukur ketinggian Polaris yang ada  di Kutub star. Sementara awal didokumentasikan (ditulis) penggunaan kuadran di laut yaitu pada  pertengahan tahun 1400s, telah digunakan dengan baik oleh ahli-tanah surveyors. Hal ini menjadi penting bagi Eropa ketika Age of Exploration dimulai pada awal 1400s.
Namun yang paling terkenal di Eropa, bahwa kuadran atau rubu’ ini dibangun oleh Tycho Brahe di abad 16.[7] Sebagai bagian dari grand observatorium yang didukung oleh Raja Denmark. Rubu’  ini adalah salah satu proyek lokakarya ditahun 1998, "Medieval Ilmiah dan Philosophical Instrumen." Quadrants digunakan untuk mengukur altitudes dari objek celestial dan terutama berguna untuk pemetaan langit. Mereka terdiri dari peninjauan perangkat terpasang pada seperempat lingkaran, atau kuadran yang berukir dengan tanda-tanda derajat. Quadrants berkisar dalam ukuran kecil dari tangan  atau tabel-mount versi besar mural quadrants terpasang di dinding.
Rubu atau kuadran merupakan astrolobus yang disederhanakan. Perputaran harian yang terlihat pada ruang angkasa disimulasikan dengan gerakan benang tegangan yang berpusat dialat ini. Dengan sebuah manik-manik yang bergerak pada benang keposisi yang berhubungan dengan matahari atau bintang tertentu. Posisi tersebut dibaca pada tanda-tanda dalam kuadran atau rubu’. Maka benang dan manik-manik menggantikan rete pada astrolobus. Sehingga kuadran ini lebih mudah digunakan dari pada astrolobus.[8]

Bagian-bagian dari kuadran [9]
1)      Qous (busur)
Yaitu bagian yang melengkung
2)      Jaib (sinus)
Yaitu sisi tempat menginca, yang memuat skala yang mudah terbaca berapa sinus dari tinggi suatu benda langit yang dilihat.
3)      Jaib at-tamam
Yaitu yang memuat skala-skala yang mudah terbaca berapa cosinus dari tinggi benda tersebut.
4)      Awwalu al-qous
Yaitu bagian busur yang berimpit dengan sisi jaib at-tamam.
5)      Akhiru al-qous
Yaitu bagian busur yang berimpit dengan jaib
6)      Hadafah
Yaitu lubng untuk mengincar.
7)      Markaz
Yaitu titik sudut siku-siku, pada sudut ini terdapat lubang kecil untuk dimasuki tali yang biasny dibuat dari benang sutera.
8)      Muri
Yaitu simpulan benang yng dapat digeser.
9)      Syakul
Yaitu ujung tali yang diberi beban yang terbuat dari metal. Apabila seseorang mengincar suatu benda langit maka syaqul itu bergerak mengikuti gaya tarik bumi, dan terbentuklah sebuah sudut yang dapat terbaca pada suatu qous, berapa tingginya benda tersebut.
Fungsi dan Jenis-jenis  kuadran
a)  Kuadran gading[10]
Kuadran gading adalah sebuah kuadran yang terbuat dari gading yang halus. Bukannya kuningan yangseperti biasanya atau kayu. Kuadran ini memilliki dua garis lintang. Perangkat tanda standar dibagian depan berguna untuk  garis lintang kairo, sedangkan bagian luar, perangkat nonstandar berguna untuk garis lintang Damaskus. Bagian belakang alat ini memiliki kisi-kisi  standar yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah geometri secara numerik. Kuadran juga memiliki penandaan tak lazim yang dirancang oleh Ibn Al-Sarraj, beliau adalah seorang astronom pada abad ke-14 yang membuat astrolobus universal.
b) Kudran kuningan [11]
Kuadran kuningan ini memiliki kisi-kisi sinus standar untuk melakukan fungsi trigonometri. Kisi-kisi ini pada abad pertengahan sebanding dengan penggaris geser yang ada pada saat ini. Bagian belakang dari alat ini memiliki penandaan menarik yang mungkin tidak lengkap. Lingkaran luar kemungkinan menunjukkan ekuator langit. Lingkaran terkecil tidak diberi tanda dan tidak memiliki fungsi yang jelas.
Kuadran geometris yang merupakan seperempat lingkaran biasanya panel dari kayu atau kuningan. Tanda-tanda di permukaan mungkin akan dicetak di atas kertas dan disisipkan ke kayu atau dilukis langsung di permukaan.
c)  Mural quadrants used for measuring the altitudes of astronomical objects. Mural quadrant
     Yaitu digunakan untuk mengukur altitude dari obyek-obyek astronomi.
d) Large frame-based instruments used for measuring angular distances between astronomical objects. Bingkai besar berbasis instrumen tajam
Yaitu yang digunakan untuk mengukur jarak antara objek-objek          astronomi.
e)  Geometric quadrant used by surveyors and navigators . Kuadran geometris
yaitu yang digunakan oleh survey dan navigator.

f)   Davis quadrant a compact, framed instrument used by navigators for measuring the altitude of an astronomical object. Davis kuadran yang kompak
Yaitu frame yang digunakan oleh navigators instrumen untuk mengukur ketinggian suatu obyek astronomi.
g)  The sine kuadran  
Dipakai untuk memecahkan masalah trigonometrika: quadrants ini, dikembangkan di Baghdad pada abad kesembilan dan merata sampai abad ke sembilan belas, terdiri dari grafik seperti kertas-kotak pada satu sisi yang digunakan untuk memecahkan masalah kompleks trigonometrika.A cord was attached to the centre of the quadrant with a bead at the end of it. kabelnya telah terpasang ke pusat dari kuadran dengan titis pada akhir tahun ini. They were also sometimes drawn on the back of astrolabes. Mereka juga kadang-kadang diambil di belakang astrolabes. [12]
h) The universal (shakkāzīya) quadrant – used for solving astronomical problems for any latitude: These quadrants had either one or two sets of shakkāzīya grids and were developed in the fourteenth century in Syria. Universal (shakkāzīya) kuadran[13]
Astronomis yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi setiap lintang: quadrants ini memiliki satu atau dua set shakkāzīya grids dan dikembangkan di abad keempatbelas di Syria. Some astrolabes are also printed on the back with the universal quadrant like an astrolabe created by Ibn al-Sarrāj. Beberapa astrolabes juga tercetak di bagian belakang dengan kuadran universal seperti astrolabe yang dibuat oleh Ibnu al-Sarrāj.
i)    The horary quadrant – used for finding the time with the sun: The horary quadrant could be used to find the time either in equal or unequal (length of the day divided by twelve) hours. Kuadran yang berlangsung satu jam
Digunakan untuk mencari waktu dengan matahari: kuadran yang berlangsung satu jam dapat digunakan untuk mencari waktu yang sama baik atau tidak adil (panjang hari dibagi dua belas) bulan. Different sets of markings were created for either equal or unequal hours. Berbeda set tanda-tanda yang dibuat untuk salah satu hari yang sama atau tidak adil. For measuring the time in equal hours, the horary quadrant could only be used for one specific latitude while a quadrant for unequal hours could be used anywhere based on an approximate formula. Untuk mengukur waktu yang sama di hari, yang berlangsung satu jam kuadran hanya dapat digunakan untuk satu spesifik lintang sementara kuadran jumplang jam untuk dapat digunakan di mana saja berdasarkan perkiraan rumus. One edge of the quadrant had to be aligned with the sun, and once aligned, a bead on the end of a plumbline attached to the centre of the quadrant showed the time of the day. Salah satu ujung dari kuadran harus aligned dengan matahari, dan sekali aligned, seorang titisan pada akhir terpasang tali pengukur tegak lurus ke pusat kuadran yang menunjukkan waktu dalam sehari.
j)   The astrolabe/almucantar quadrant – a quadrant developed from the astrolabe: This quadrant was marked with one half of a typical astrolabe plate as astrolabe plates are symmetrical. The astrolabe atau almucantar kuadran[14]
Kuadran yang dikembangkan dari astrolabe. Kuadran ini telah ditandai dengan satu setengah dari yang khas astrolabe piring piring sebagai astrolabe adalah simetris. A cord attached from the centre of the quadrant with a bead at the other end was moved to represent the position of a celestial body (sun or a star).  kabelnya terpasang dari pusat dari kuadran dengan titis di ujung yang lain telah dipindahkan ke posisi mewakili sebuah benda angkasa (bintang atau Minggu). The ecliptic and star positions were marked on the quadrant for the above. The ecliptic dan posisi yang bertanda bintang di kuadran di atas. It is not known where and when the astrolabe quadrant was invented, existent astrolabe quadrants are either of Ottoman or Mamluk origin, while there have been discovered twelfth century Egyptian and fourteenth century Syrian treatises on the astrolabe quadrant. Hal ini tidak diketahui di mana dan bila telah invented astrolabe kuadran, wujud astrolabe quadrants adalah salah satu dari Usmani atau Mamluk asal, sementara di sana telah ditemukan abad kedua belas abad keempat belas Mesir dan Syria treatises di kuadran astrolabe. These quadrants proved to be very popular alternatives to astrolabes. Kuadran ini menjadi sangat populer alternatif untuk astrolabes.

Macam – macam bentuk rubu’

Versions from 5000BC-to 500AD Versi dari 5000BC ke-500AD

Jenis kuadran ini lebih tua dari sejarah dan digunakan Mariners instrumen untuk navigasi Dicap oleh ekspansi dari Rum, archetypal instrumen ini akan kembali ke waktu ketika bangsa pengembara planets berlayar di lautan dengan stars.It terakhir terlihat hidup di tangan "Celtic" bangsa di Eropa Barat seaboards sampai 500AD walaupun ada bukti yang ada di antara desain yang Amerindian Civilisations di Amerika sehingga mereka hancur dan mereka obliterated oleh Conquistador dalam AD Abad 16.

2170BC
Versi ini salib telah diidentifikasi oleh penulis sebagai perangkat yang digunakan oleh arsitek, ahli nujum untuk menyesuaikan Great Pyramid of Giza ke circumpolar bintang. Dengan tongkat berukuran 90 centimeter, perangkat ini adalah akurat sampai 3 menit arc atau 3 mil laut. Ia adalah satu-satunya jenis perangkat yang dapat sudut lerengan logis desain dan survei yang pyramids.The Pengarang telah menemukan satu di Great Pyramid of Giza.



[1] Azhri, susiknan. Ilmu falak. ( suara muhammdiyah : yogyakarta). Hlm. 1-3
[2] Azhari, susiknan. Ensklopedihisab rukyat.( yogyakarta : pustaka pelajar).hlm.181-182
[3] Khazzin, mukhyiddin. Ilmu falak dalam teori dan praktik. (yogyakarta : Buana Pustaka).hlm. 18
[4] http://images.google.co.id/imgres?imgurl
[5] http://www.daviddarling.info/encyclopedia/qudrant.com
[6] http://www.airandspace.si.edu/exploretheuniverse/images/2001


[7] http://byss.uoregon.edu/ast122/lectures/lec0.7html.
[8] Howard, sains Islam yang mengagumkan. ( Bandung : yayasan nuasansa cendekia). 111
[9] Ibid. hlm. 182
[10] Ibid. 113
[11] 0p.cit. 114
[12] http://www.humboldt,edu/rpi 1/Erlyscientsite/instruments/Quadrants.ESI

[13] http://www.daviddarling.info/encyclopedia/quadrant.html.
[14] http://www.aip.quadrant .com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar